Sabtu, 18 April 2009

Rasahi basah dan tusukan sinar matahri tanpa tritisan

| Sabtu, 18 April 2009 | 1 komentar

Hujan hujan musim hujan pancaroba trus panas panasnya musim kemarau, keadaan cuaca wajib iklim tropis seperti Indonesia salah satu contohnya.

Berdasarkan siklusnya menurut pelajaran ilmu pengetahuan alam, musim hujan berada pada bulan dan musim kemarau terjadi pada bulan dan diantara pergantian musimnnya ada musim pancaraba.

Di daerah yang mengalami musim hujan dan kemarau tentunya keadaan hujan bercipratan dan panas sinar matahari yang semakin terik sudah bagaikan rutiitas alam. Kemarin 16april2009 saat lagi gak tau mau ngapa ngapain saya duduk duduk di teras kost kost an cuaca saat itu (sekitar jam 4 sorean) lagi ujan cukup gede tatpi saya dan teman saya (nitra) tetep duduk2 duduk di teras. Lama lama ujan semakin membesar. Teras kost2 an yang berada di lantai 2 ini tidak memiliki tritisan hanya ada atap untuk menutupi lantai terasnya. Padahal di teras ini sudah di pasangi kerai yang tinggi nya dari langit2 teras sekitar 2m an, namun hujan tetap masuk menciprati teras ampe masuk masuk ke kamar kostan sesekali percikan airnya.
Hem hem, basah basah deh. a>Awalnya saya asih bertahan beberapa menit menikmati kaki dan badan yang sesedikit terkenan air hujan tapi huaaaaa! Makin basah ajah udah kayak main ujan2 an(padahal emang main ujan2 an)

Saat masih musim pancaroba di mana pergantian musim cukup mengacaukan, hujan yang tak tentu dan panas sinar matahari yang kering bikin males buanget untuk keluar ruangan.
Saat panas matahari lagi terik teriknya , bluha!, tempat yang tanpa tritisan bakal panas banget bikin orang ogah ogahan berada di outdor sekalipun beratap selain itu juga mempercepat rusaknya cat tembok. Sinar matahari yang gila gilaan bukan yang diinginkan manusia saat menikmati ruang, manusia cukup menginginkan cahaya matahari nya saja. Dengan adanya tritsian ruang yang berhubungan langsung dengan luar/outdor akan mengalami pembayangan sehingga sinar matahari tidak masuk ke ruang.
Dalam perkembangan peradaban manusia (hua, gaya bet gua,nomong belekedut bginih) manusia perlu memanfaat kan keadaan cuaca sebagai bagian dari energy penujang kehidupan yang dapat dimanfaatkan bukan hanya di hindari saja.hal itu yang perlu kita pikirkan para calon arsitek arsitek Indonesia.

Triakan, merdeka khususnya untuk arsitek Universitas Sebelas Maret dan umumnya untuk arsitek Indonesia!

1 komentar:

fes_tya kacrut mengatakan...

gw tau nih tempat kayanya,,, teras (baca: rumah) gersang tanpa pepohonan...