System pengolah perputaran kehidupan makhluk hidup merupakan sebuah keselumitan dari aneka system atom yang mengisi dan mengaturnya. Sebuah keterikatan system dalam atom atom kehidupan ini saling bertindih, merapat, menyatu, memecah sesamanya atau antar nya, lalu perlahan hanya tersisa sang kuasa dalam system kehidupan ini. Mencoba berfikir apakan kita bagian dari system atom pengisi system sebuah kehidupan yang memiliki kepastian dan keteraturan di dalamnya, bukan sebuah antrian BLBI. Tanpa kita mendaftar kita pasti mengisi system kehidupan dengan segala keteraturan nya yang merupakan aturan kaku dalam kehidupan. HDUP-MATI.
Mencoba bertindak merusak system, merubah sebuah keteraturan atau nyata yang sering kita sebut takdirkah?. Kita berusaha mencoba menjadi sebuah makhluk hidup, berusaha mengisinya dengan sesuatu yang menunjukan keakuanya, lalu hilang, meledak entah kapan saat terbaik itu tiba, saat terbaik sebuah awal kehidupan baru dalam alamnya.
“ Hari ini AR merasa ingin mati. Capek ia menjalani hidup. Tubuhnya lunglai. Kekuatanya selama berpuluh tahun sebagai seorang pengembara kehidupan, lenyap begitu saja. AR bahkan sudah berpikir untuk mengakhiri hidupnya yang melelahkan. Naik..........” (hal 64, 170.8 FM Radio Negeri Biru, FX Rudy Gunawan)
Mungkin pemikiran seperti itu pernah terlintas dalam mikro mikro atom lagi dari susunan sistem kehidupan sebuah makhluk hidup. Mati dianggap sebuah ke akhiran dari kehidupan. Akhir kehidupan fana gw stuju dengn kalimat itu. Tapi apakah akhir itu sebuah titik yang benar benar terhapus lalu hilang, pernakah sang titik itu berfikir bagaimana cara menghapus titik nya, memilih pengapusan dalam sebuah toko ATK, lalu mencari uangnya untuk membeli penghapusan itu kemudian memilih tangan siapa yang yang menghapus, menentukan arah menghapus, memikirkan tempat sampah mana yang tidak penuh membuang sisa dari karet penghapus yang mengapus titik lw, lalu lalu lalu sisa karet penghapus yang kita beli akan di miliki siapa dan seterusnya . Bukan perjalanan yang mudah dalam mengahapus sebuah titik, sebuah titik itu pun bisa saja menjadi garis membidang tanpa sempat menghapus tapi dengn cara lain yang berakhir kertas itu menjadi putih tanpa nya, hanya caranya saja yang berbeda.
Keputus asaan, merasa tidak berguna, merasa sendiri, dan lainya terkadang membuat kita lebih mudah BERKATA mati. Kata yang tersusun dari 4 huruf yang entah mengandung maksud apa saat berujarnya. Unsur sebuah kata yang memiliki kekuatan penghancur sistem kehidupan sebuah makhluk hidup.
Beberapa orang berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Mengakhiri ke mayaan dalam dunia fana. Dunia yang saling melukai dan mengobati lukanya. Di saat nya nanti sebuah ajal akan tiba hanya waktu dan cara yang berbeda saat sejenak makhluk makhluk lain saling berkumpul menyaksikan raga kita, itulah sebuah kematian. Kematian yang diinginkan manusia bukan makhluk lagi?.
Nanti saat semua selesai menjalankan kewajibanya, saat raga berpisah dari roh nya,saat lahat siap menelan raga kita. Saat itulah saat terbaik kita mati, tanpa perlu kita memilih hari terbaik itu kapan.
Berfikirlah “Just For Now” hanya untuk sekarang kita ……………
Hanya untuk sekarang kita berfikir mati, hanya untuk sekarang kita berfikir ingin membunuh, hanya untuk sekarang kita berfikir senang, hanya untuk sekarang kita ingin hidup, hanya untuk sekarang kita ingin berpindah, dan lain sebagainya yang terkadang hanya untuk sekarang kita fikirkan dan pekerjakan. Lebih baik kita memerankan peran yang di beriNya dengan total sampai hari terbaik itu datang.
Dalam sebuah hadist:
Berfikirlah hari esok adalah kiamat agar kita selalu menjalankan ibadah, berdoa, beramal dan melakukan perbuatan kebaikan di dunia, Dan berfikirlah kita akan hidup berjuta tahun di dunia agar kita memikirkan kehidupan kita dengn lebih tertata, mencari ilmu untuk selama itu, mencari redzeki sebanyak banyaknya untuk selama itu. (kurang lebih intinya begitu, udah rada lupa gw, he)
Semangat sampai hari terbaik itu tiba hingga hanya menyisakan sistem kehidupan snag kuasa.
Jangan menciptakan KEMATIAN sendiri, gw butuh kalian semua.
Minggu, 22 Juni 2008
“apakah hari ini hari yang baik untuk mati?” (170.8FM Radio Negeri Biru, FX Rudy Gunawan)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar